Penguatan Rupiah 2026 dan Dampak Global: Analisis Fluktuasi Mata Uang Indonesia Terhadap Dolar AS

Senin, 26 Januari 2026 | 15:55:11 WIB
Penguatan Rupiah 2026 dan Dampak Global: Analisis Fluktuasi Mata Uang Indonesia Terhadap Dolar AS

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Senin, 26 Januari 2026, kembali menunjukkan penguatan. Rupiah tercatat berada di level Rp16.779 per USD hingga pukul 10.14 WIB, naik 41 poin atau setara 0,24 persen dibanding penutupan sebelumnya.

Sementara itu, data alternatif menunjukkan rupiah berada di level Rp16.833 per USD pada waktu yang sama. Pergerakan ini menggambarkan fluktuasi mata uang yang cukup dinamis pada awal pekan.

Prediksi Pergerakan Rupiah dan Fluktuasi Pasar

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah akan bergerak fluktuatif sepanjang hari. Meski begitu, ia menilai kemungkinan mata uang Garuda akan kembali melemah menjelang penutupan perdagangan.

"Rupiah diperkirakan ditutup melemah di rentang Rp16.820 hingga Rp16.850 per USD hari ini. Sedangkan untuk sepekan ini, pergerakan diprediksi berada di level Rp16.790 hingga Rp17.000 per USD," jelas Ibrahim.

Faktor utama fluktuasi rupiah saat ini berkaitan dengan ketidakpastian global. Investor menunggu keputusan Presiden AS Donald Trump mengenai pengganti Ketua Federal Reserve Jerome Powell.

Kepemimpinan The Fed yang lebih lunak diyakini dapat memicu penurunan suku bunga lebih lanjut. Ekspektasi ini meningkatkan volatilitas mata uang dan memengaruhi sentimen pasar terhadap rupiah.

Sentimen Ekonomi dan Geopolitik Global

Data ekonomi AS terbaru menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik dari perkiraan. Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal ketiga melampaui ekspektasi, dan pasar tenaga kerja menunjukkan stabilitas dibanding kelemahan.

Dengan kondisi tersebut, ekspektasi penurunan suku bunga pada pertemuan 27-28 Januari 2026 diprediksi tidak berlaku lagi. Hal ini berdampak langsung pada persepsi nilai tukar rupiah di pasar global.

Selain itu, isu geopolitik turut memengaruhi sentimen. Presiden Trump melunakkan ancaman terhadap Greenland setelah mengklaim telah mengamankan akses total AS dalam kesepakatan dengan NATO.

Kepala NATO menekankan komitmen sekutu terhadap keamanan Arktik untuk menghadapi potensi ancaman dari Rusia dan Tiongkok. Di sisi lain, pemimpin Uni Eropa mempertimbangkan kembali hubungan dengan AS akibat ketegangan geopolitik.

Isu keamanan di Iran juga menjadi perhatian. Trump menyatakan AS siap bertindak jika Iran melanjutkan program nuklir, meski berharap tidak ada tindakan militer lebih lanjut.

Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menyatakan telah menyelesaikan persyaratan jaminan keamanan bersama AS. Namun, masalah wilayah terkait perang dengan Rusia masih belum menemukan solusi.

Intervensi Rupiah dan Rekomendasi IMF

Dana Moneter Internasional (IMF) meminta Bank Indonesia (BI) berhati-hati dalam melakukan intervensi di pasar valuta asing. IMF menekankan rupiah harus tetap berfungsi sebagai peredam guncangan utama di tengah ketidakpastian global.

IMF menilai pengaturan nilai tukar Indonesia masih bersifat mengambang secara de facto. Artinya, rupiah dibiarkan mengikuti mekanisme pasar dengan intervensi yang dilakukan secara selektif.

Bank Indonesia menerapkan intervensi melalui berbagai instrumen, termasuk pasar spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), dan non-deliverable forward (NDF) di luar negeri. Intervensi ini bertujuan menstabilkan nilai tukar tanpa menghambat penyesuaian fundamental.

IMF menekankan intervensi harus terukur agar cadangan devisa tetap cukup. Posisi cadangan devisa Indonesia saat ini dianggap memadai, dengan langkah pengisian kembali ketika tekanan eksternal mereda.

Selain itu, arah kebijakan moneter BI dinilai tepat. Sejak September 2024 hingga September 2025, BI menurunkan suku bunga acuan sebanyak enam kali, masing-masing 25 basis poin, sehingga suku bunga berada di level 4,75 persen.

Langkah ini dilakukan meski pertumbuhan kredit masih lemah. Strategi ini bertujuan menjaga keseimbangan antara stabilisasi ekonomi dan pengelolaan likuiditas nasional.

Dampak Penguatan Rupiah terhadap Investor dan Perdagangan

Penguatan rupiah memberikan peluang bagi pelaku pasar domestik untuk mengurangi biaya impor. Investor juga mendapat sinyal positif dalam merencanakan transaksi valuta asing atau lindung nilai.

Namun, fluktuasi tetap menjadi tantangan bagi pelaku usaha yang bergantung pada perdagangan internasional. Perusahaan perlu memantau nilai tukar secara cermat agar tidak terdampak volatilitas mendadak.

Kombinasi faktor ekonomi domestik dan global membuat penguatan rupiah bersifat sementara. Investor disarankan tetap waspada terhadap perkembangan pasar dan keputusan kebijakan The Fed.

Pemantauan secara rutin menjadi kunci dalam mengantisipasi risiko dan peluang pasar. Dengan strategi yang tepat, penguatan rupiah bisa dimanfaatkan untuk keuntungan jangka pendek maupun panjang.

Kesimpulannya, rupiah menguat pada pembukaan perdagangan 26 Januari 2026, meski tetap menghadapi tekanan global. Faktor ekonomi, geopolitik, dan kebijakan moneter menjadi variabel utama yang menentukan arah pergerakan mata uang nasional.

Terkini