Investasi

Gen Z Ubah Peta Investasi Nasional, OJK Soroti Lonjakan Minat Aset Berisiko Tinggi

Gen Z Ubah Peta Investasi Nasional, OJK Soroti Lonjakan Minat Aset Berisiko Tinggi
Gen Z Ubah Peta Investasi Nasional, OJK Soroti Lonjakan Minat Aset Berisiko Tinggi

JAKARTA - Perubahan lanskap keuangan nasional kini tidak lagi hanya dipengaruhi kebijakan moneter atau gejolak ekonomi global. Generasi muda justru menjadi faktor baru yang membentuk arah investasi di Indonesia, khususnya melalui preferensi mereka terhadap instrumen berisiko tinggi.

Fenomena tersebut menarik perhatian regulator keuangan karena pola yang muncul sangat berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun mulai mencermati dinamika ini sebagai bagian dari transformasi perilaku keuangan masyarakat.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencermati perubahan signifikan dalam pola investasi generasi muda. Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, menegaskan bahwa Generasi Z (Gen Z) cenderung memilih instrumen berisiko tinggi, termasuk aset kripto, sebuah dinamika yang berbeda jauh dari perilaku investasi generasi sebelumnya.

Mahendra menyebut bahwa kecenderungan ini mencerminkan pergeseran prioritas dalam pengelolaan keuangan personal. “Risk appetite mereka jauh lebih tinggi. Prioritasnya mungkin juga telah berubah,” ujarnya kepada media dikutip, Jumat 23 Januari 2026.

Pola investasi tersebut mencerminkan cara pandang baru terhadap risiko dan peluang di era digital. Gen Z dinilai lebih terbuka terhadap ketidakpastian demi potensi imbal hasil yang lebih besar.

Mahendra melihat fenomena ini bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai sinyal perubahan zaman yang perlu dipahami. Ia menilai pendekatan regulator terhadap generasi muda harus menyesuaikan karakteristik mereka yang berbeda dari generasi sebelumnya.

Preferensi Risiko Tinggi Jadi Ciri Khas Gen Z

Fenomena ini menarik karena memperlihatkan cara pandang Gen Z terhadap uang yang lebih berani dan berbeda secara mendasar. Mahendra menegaskan bahwa minat mereka pada instrumen berisiko tinggi bukan semata-mata akibat rendahnya literasi finansial.

Justru, mayoritas Gen Z sudah memahami risiko inheren dalam aset seperti kripto. Oleh sebab itu, metode edukasi konvensional mungkin tidak lagi relevan bagi generasi ini.

Pendekatan lama yang menekankan kehati-hatian ekstrem dinilai kurang efektif untuk menjangkau kelompok usia ini. Gen Z lebih tertarik pada pendekatan yang menyeimbangkan potensi risiko dan peluang secara realistis.

Mahendra menilai penting bagi regulator untuk memahami motif di balik pilihan investasi mereka. Dengan begitu, kebijakan yang dirancang dapat lebih tepat sasaran dan relevan dengan kebutuhan generasi muda.

Menurut Mahendra, generasi sebelum Gen Z cenderung menempatkan pemenuhan kebutuhan pokok sebagai prioritas utama. Sisa pendapatan baru dialokasikan untuk tabungan jangka pendek, tabungan jangka panjang, dan investasi berisiko rendah.

Pola tersebut mencerminkan orientasi keuangan yang lebih konservatif dan berfokus pada stabilitas jangka panjang. Investasi dipandang sebagai pelengkap setelah kebutuhan dasar terpenuhi sepenuhnya.

Sebaliknya, Gen Z dinilai lebih fleksibel dalam membagi pendapatan mereka sejak awal. Investasi bahkan kerap ditempatkan sejajar dengan kebutuhan konsumsi harian.

Perbedaan ini menunjukkan perubahan mendasar dalam filosofi pengelolaan keuangan personal. Risiko tidak lagi dipandang semata-mata sebagai ancaman, melainkan juga sebagai peluang yang layak dicoba.

Transformasi Keuangan Digital Dorong Perubahan Perilaku

Di sisi lain, OJK menilai potensi inovasi teknologi dan keuangan digital tetap besar di panggung global. Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan (ITSK) OJK, Hasan Fawzi, menyebut bahwa nilai pasar global sektor ini terus meningkat, dengan proyeksi mencapai 8.567,4 miliar dolar AS pada 2033.

Proyeksi tersebut memperlihatkan bahwa sektor keuangan digital tidak hanya tumbuh secara cepat, tetapi juga memiliki prospek jangka panjang yang kuat. Kondisi ini membuka ruang besar bagi inovasi produk dan layanan keuangan berbasis teknologi.

Hasan menambahkan, Indonesia memiliki peluang strategis dalam pengembangan inovasi keuangan digital. Faktor demografi menjadi pendorong utama, ditopang penetrasi internet dan adopsi smartphone yang sangat tinggi.

“Sekitar 74,6 persen penduduk Indonesia telah tersambung internet, setara 212 juta jiwa, dengan penetrasi smartphone yang luar biasa,” ujarnya.

Angka tersebut mencerminkan basis pasar yang sangat luas bagi pengembangan produk fintech. Kondisi ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu pasar potensial terbesar di kawasan Asia Tenggara.

Perkembangan teknologi juga mendorong perubahan perilaku finansial generasi muda. Akses yang mudah dan cepat terhadap berbagai aplikasi investasi membuat Gen Z lebih berani bereksperimen dengan instrumen baru.

Kemudahan tersebut turut menggeser batas antara layanan keuangan tradisional dan digital. Investasi kini dapat dilakukan hanya melalui ponsel pintar tanpa perlu interaksi langsung dengan lembaga keuangan konvensional.

Perubahan ini semakin mempercepat adaptasi generasi muda terhadap produk keuangan berisiko tinggi. Lingkungan digital menciptakan ekosistem yang mendorong eksplorasi dan diversifikasi instrumen investasi.

Fintech Syariah dan Posisi Indonesia di Kancah Global

Selain fintech konvensional, Hasan menyoroti pertumbuhan signifikan fintech syariah. Indonesia bahkan diprediksi menjadi negara ketiga paling kondusif bagi pengembangan ekosistem fintech syariah, memperkokoh posisi domestik dalam lanskap keuangan digital global.

Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa inovasi keuangan tidak hanya terbatas pada model bisnis umum. Pendekatan berbasis prinsip syariah juga semakin diminati seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat akan layanan keuangan yang sesuai nilai dan keyakinan.

Fintech syariah dinilai memiliki potensi besar dalam memperluas inklusi keuangan nasional. Produk-produk keuangan berbasis syariah mampu menjangkau kelompok masyarakat yang sebelumnya belum terlayani secara optimal.

Kombinasi antara teknologi digital dan prinsip syariah menciptakan peluang baru dalam pengembangan industri keuangan nasional. Hal ini sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat ekonomi syariah global.

Dalam konteks Gen Z, perkembangan fintech syariah juga membuka alternatif investasi yang lebih beragam. Generasi muda dapat memilih instrumen yang tidak hanya sesuai dengan profil risiko, tetapi juga dengan nilai-nilai personal mereka.

OJK menilai bahwa perkembangan ini perlu diiringi dengan kebijakan yang adaptif dan responsif. Regulasi yang seimbang antara perlindungan konsumen dan ruang inovasi menjadi kunci keberlanjutan sektor keuangan digital.

Mahendra menegaskan bahwa perubahan perilaku investasi Gen Z tidak dapat dihadapi dengan pendekatan lama. Regulator perlu memahami karakteristik generasi ini yang terbiasa dengan kecepatan, transparansi, dan fleksibilitas.

Ia juga menekankan bahwa tujuan utama tetap menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus mendorong inovasi. Dengan demikian, pertumbuhan sektor keuangan digital dapat berjalan seiring dengan perlindungan konsumen.

Di sisi lain, meningkatnya minat Gen Z pada aset berisiko tinggi seperti kripto menunjukkan pentingnya edukasi keuangan yang lebih kontekstual. Edukasi tidak lagi hanya berfokus pada larangan atau peringatan, tetapi juga pada pemahaman risiko dan manajemen portofolio.

Pendekatan ini diharapkan mampu membentuk investor muda yang tidak hanya berani, tetapi juga cerdas dan bertanggung jawab. Dengan literasi yang tepat, potensi risiko dapat dikelola tanpa menghambat inovasi dan pertumbuhan.

Transformasi perilaku investasi generasi muda menjadi sinyal kuat bahwa lanskap keuangan Indonesia sedang mengalami pergeseran besar. Perubahan ini membuka peluang baru sekaligus tantangan yang perlu direspons secara strategis.

OJK melihat fenomena ini sebagai bagian dari evolusi sistem keuangan nasional. Dengan adaptasi kebijakan yang tepat, perubahan perilaku Gen Z justru dapat menjadi motor penggerak pertumbuhan sektor keuangan di masa depan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index