Cold Brew Milk Tea

Viral Cold Brew Milk Tea Semalaman, Ini Fakta Keamanan yang Perlu Kamu Tahu

Viral Cold Brew Milk Tea Semalaman, Ini Fakta Keamanan yang Perlu Kamu Tahu
Viral Cold Brew Milk Tea Semalaman, Ini Fakta Keamanan yang Perlu Kamu Tahu

JAKARTA - Media sosial belakangan ramai membahas cara membuat milk tea dengan metode cold brew semalaman. Banyak warganet menganggap teknik ini sebagai solusi praktis untuk mendapatkan teh susu yang lembut, creamy, dan minim rasa pahit.

Dalam berbagai video, pengguna cukup memasukkan satu hingga dua kantong teh ke dalam botol berisi susu dingin. Botol kemudian disimpan di kulkas semalaman sebelum diminum keesokan harinya.

Metode ini terlihat sederhana dan menarik, terutama bagi mereka yang ingin menikmati minuman kekinian tanpa ribet. Namun, di balik kemudahannya, muncul pertanyaan soal keamanan dan dampaknya bagi tubuh.

Melansir The Skimm, peracik teh Steve Schwart mengingatkan bahwa merendam kantong teh terlalu lama, terutama di dalam susu, bukan tanpa risiko. Masalahnya bukan sekadar mitos, melainkan berkaitan dengan pelepasan zat dalam teh, kualitas rasa, hingga aspek keamanan mikrobiologis.

Peringatan ini penting mengingat tren cold brew milk tea terus meluas. Banyak orang mengadopsinya tanpa mengetahui dampak yang mungkin terjadi jika dilakukan secara rutin.

Meski cold brew dikenal lebih ramah dibandingkan seduhan panas, bukan berarti teknik ini bebas risiko. Apalagi jika perendaman dilakukan terlalu lama dan menggunakan media seperti susu.

Untuk memahami risikonya, penting mengetahui bagaimana proses ekstraksi teh bekerja. Setiap senyawa dalam teh memiliki karakteristik yang berbeda saat dilepaskan ke dalam cairan.

Cara Kerja Cold Brew dan Dampaknya pada Teh

Metode cold brew memang dikenal lebih "ramah" dibandingkan seduhan panas. Air dingin mengekstraksi tanin dan kafein dalam jumlah lebih sedikit, sehingga rasa teh cenderung lebih halus dan tidak getir.

Inilah alasan cold brew tea relatif bisa disimpan lebih lama jika menggunakan air dan disimpan pada suhu dingin. Rasa yang dihasilkan juga lebih ringan dan tidak terlalu pahit.

Mengutip Tea from Taiwan, teh mengandung tanin, kafein, flavonoid, dan polifenol yang dilepaskan selama proses penyeduhan. Jika diseduh sesuai waktu anjuran, zat-zat tersebut memberikan rasa seimbang sekaligus manfaat kesehatan.

Setiap senyawa dalam teh berkontribusi terhadap aroma, rasa, dan efek fisiologis yang dirasakan tubuh. Oleh karena itu, durasi penyeduhan sangat menentukan kualitas minuman yang dihasilkan.

Namun, merendam kantong teh selama berjam-jam, apalagi lebih dari 12 jam, membuat daun teh terus melepaskan berbagai senyawa aktif tersebut secara berlebihan. Akibatnya, rasa bisa berubah menjadi lebih pahit atau sepat meskipun diseduh dengan cairan dingin.

Selain soal rasa, pelepasan zat aktif secara berlebihan juga dapat memengaruhi kenyamanan pencernaan. Beberapa orang mungkin merasakan perut tidak nyaman setelah mengonsumsi teh yang terlalu lama direndam.

Masalah lain datang dari jenis teh celup itu sendiri. Kantong teh umumnya berisi partikel teh halus atau tea dust dan fannings.

Partikel kecil ini mengekstraksi zat aktif jauh lebih cepat dan agresif dibandingkan daun teh utuh. Akibatnya, risiko rasa pahit semakin besar jika direndam terlalu lama.

Kondisi ini membuat cold brew dengan teh celup lebih berisiko dibandingkan penggunaan daun teh utuh. Semakin lama perendaman, semakin besar kemungkinan kualitas rasa dan keamanan minuman menurun.

Benarkah Teh Semalaman Bisa Picu Kanker?

Kekhawatiran bahwa teh yang dibiarkan semalaman bisa memicu kanker muncul karena teh disebut mengandung amina. Senyawa ini berpotensi berubah menjadi nitrosamin, yang dikenal bersifat karsinogen.

Isu ini kerap beredar di media sosial dan menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat. Namun, anggapan tersebut perlu diluruskan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.

Amina sebenarnya banyak ditemukan secara alami dalam berbagai makanan. Tidak semua amina dapat membentuk nitrosamin.

Proses pembentukan nitrosamin hanya terjadi ketika amina bebas bereaksi dengan nitrit dalam kondisi tertentu. Kondisi ini tidak selalu terpenuhi dalam proses penyeduhan teh biasa.

Dengan kata lain, hingga kini tidak ada bukti kuat bahwa mengonsumsi teh yang direndam semalaman secara langsung menyebabkan kanker. Risiko tersebut lebih bersifat teoritis dan belum didukung data ilmiah yang kuat.

Meski demikian, bukan berarti teh semalaman sepenuhnya tanpa risiko. Faktor lain justru lebih perlu diperhatikan, terutama terkait keamanan mikrobiologis.

Dibandingkan risiko kanker, masalah yang jauh lebih perlu diwaspadai adalah kontaminasi mikroba. Risiko ini meningkat jika teh disimpan dengan cara yang tidak tepat.

Susu sebagai media rendaman juga lebih rentan terhadap pertumbuhan bakteri dibandingkan air. Hal ini membuat cold brew milk tea memiliki potensi risiko lebih tinggi jika tidak ditangani dengan benar.

Jika teh tampak keruh, mengental, atau mengalami perubahan aroma, minuman tersebut sebaiknya langsung dibuang. Hal ini berlaku meskipun baru direndam beberapa jam, bukan hanya semalaman.

Perubahan warna dan bau bisa menjadi tanda awal kontaminasi mikroorganisme. Mengabaikan tanda-tanda ini dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan.

Cara Menyeduh dan Menyimpan Teh yang Lebih Aman

Agar tetap aman bagi tubuh, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat menyeduh dan menyimpan teh. Langkah-langkah sederhana ini dapat membantu meminimalkan risiko yang tidak diinginkan.

Gunakan wadah berbahan kaca, keramik, atau stainless steel food grade. Bahan-bahan ini lebih stabil dan tidak bereaksi dengan zat dalam teh.

Hindari penggunaan wadah plastik, terutama untuk teh panas. Plastik dapat melepaskan zat kimia tertentu saat terkena suhu tinggi.

Seduhan pertama sebaiknya tidak diminum untuk memberi waktu daun teh mengembang. Cara ini juga membantu menghilangkan kotoran dan debu yang mungkin masih menempel.

Langkah ini sering dilakukan dalam tradisi minum teh tertentu. Selain meningkatkan kualitas rasa, metode ini juga dianggap lebih higienis.

Jangan menyimpan teh panas terlalu lama pada suhu ruang. Kondisi hangat dapat mempercepat pertumbuhan mikroorganisme yang tidak diinginkan.

Jika ingin menyimpan teh untuk dikonsumsi nanti, sebaiknya segera dinginkan dan simpan di kulkas. Cara ini membantu memperlambat pertumbuhan bakteri.

Untuk cold brew milk tea, sebaiknya batasi waktu perendaman sesuai anjuran. Merendam terlalu lama, apalagi lebih dari 12 jam, tidak dianjurkan.

Selain itu, pastikan susu yang digunakan masih segar dan disimpan pada suhu yang tepat. Susu yang sudah mendekati tanggal kedaluwarsa lebih rentan terhadap kontaminasi.

Penggunaan daun teh utuh juga bisa menjadi pilihan yang lebih baik dibandingkan kantong teh celup. Daun teh utuh cenderung mengekstraksi zat lebih lambat dan stabil.

Dengan cara yang tepat, menikmati teh tetap bisa menjadi kebiasaan sehat tanpa perlu khawatir akan risikonya. Kualitas rasa pun dapat lebih terjaga jika proses penyeduhan dilakukan dengan benar.

Tren cold brew milk tea memang menawarkan kemudahan dan sensasi rasa yang berbeda. Namun, pemahaman tentang cara aman menyeduh dan menyimpannya tetap diperlukan.

Kebiasaan kecil seperti memperhatikan durasi rendaman dan kebersihan wadah dapat berdampak besar pada keamanan minuman. Hal ini menjadi penting terutama bagi mereka yang rutin mengonsumsi minuman berbasis susu.

Dengan mengikuti panduan yang tepat, Anda tetap bisa menikmati milk tea favorit tanpa rasa khawatir. Minuman pun tetap lezat, aman, dan nyaman dikonsumsi.

Kesimpulannya, merendam kantong teh semalaman dalam susu bukan sepenuhnya berbahaya. Namun, praktik ini tetap perlu dilakukan dengan kehati-hatian dan pemahaman yang benar.

Kesadaran akan potensi risiko membantu masyarakat membuat pilihan yang lebih bijak. Dengan begitu, tren minuman viral dapat dinikmati tanpa mengorbankan kesehatan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index