JAKARTA - Awal perdagangan pasar keuangan hari ini menghadirkan kabar positif bagi mata uang Indonesia. Rupiah tercatat menguat pada Rabu, 11 Februari 2026, setelah sempat berada di bawah tekanan dalam beberapa hari terakhir.
Penguatan ini menjadi perhatian pelaku pasar karena terjadi di tengah dinamika ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian. Investor domestik pun mulai kembali mencermati arah pergerakan rupiah seiring munculnya sejumlah sentimen baru dari luar negeri.
Pada pembukaan perdagangan pagi, rupiah berada di level Rp16.775 per dolar Amerika Serikat. Posisi ini menunjukkan penguatan sekitar 0,21 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.811 per dolar AS.
Pergerakan tersebut dinilai sebagai sinyal awal bahwa tekanan terhadap rupiah mulai mereda. Meski demikian, pelaku pasar tetap diminta waspada terhadap potensi volatilitas yang masih mungkin terjadi.
Kondisi ini juga menjadi perhatian pelaku usaha yang bergantung pada transaksi valuta asing. Stabilitas nilai tukar menjadi faktor penting dalam menjaga kelancaran aktivitas perdagangan dan investasi.
Di tengah penguatan rupiah ini, sejumlah faktor global dan domestik menjadi sorotan utama investor. Sentimen dari Amerika Serikat, Tiongkok, serta arah kebijakan bank sentral dunia turut memengaruhi pergerakan pasar.
Data Ekonomi Amerika Serikat Jadi Pemicu Sentimen Pasar
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, menyampaikan bahwa penjualan ritel Amerika Serikat tercatat stagnan pada Desember 2025. Angka tersebut meleset dari perkiraan sebelumnya yang memperkirakan kenaikan sebesar 0,4 persen.
Selain itu, kelompok kontrol yang menjadi masukan perhitungan produk domestik bruto atau PDB justru mengalami penurunan sebesar 0,1 persen. Kondisi ini memperkuat pandangan bahwa momentum pertumbuhan ekonomi AS sedang mengalami perlambatan.
Menurut Andry, data tersebut memberikan sinyal bahwa konsumsi masyarakat AS belum sepenuhnya pulih. Hal ini kemudian berdampak pada ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter bank sentral AS.
Pelaku pasar global mulai menyesuaikan strategi investasinya setelah data tersebut dirilis. Dampaknya, arus modal cenderung bergerak lebih selektif ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Kondisi ini turut memberi ruang bagi mata uang negara berkembang untuk menguat. Rupiah pun menjadi salah satu yang merasakan dampak positif dari perubahan sentimen tersebut.
Meski demikian, pelaku pasar tetap mencermati rilis data lanjutan dari AS. Setiap perkembangan terbaru dapat kembali memengaruhi pergerakan nilai tukar dalam waktu singkat.
Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga The Fed Menguat
Selain data penjualan ritel, pasar uang saat ini juga memperkirakan peluang sekitar 25 persen bagi The Federal Reserve untuk melakukan tiga kali pemotongan suku bunga masing-masing sebesar seperempat poin pada 2026. Angka ini meningkat dibandingkan ekspektasi sebelumnya yang hanya dua kali pemangkasan.
Perubahan ekspektasi tersebut menjadi faktor penting dalam pergerakan nilai tukar global. Investor cenderung merespons cepat terhadap potensi perubahan arah kebijakan moneter AS.
Pemangkasan suku bunga biasanya membuat dolar AS melemah karena imbal hasil aset berbasis dolar menjadi kurang menarik. Kondisi ini seringkali memberi ruang bagi mata uang lain, termasuk rupiah, untuk menguat.
Andry menilai bahwa peningkatan peluang pemangkasan suku bunga ini menjadi salah satu sentimen positif bagi pasar keuangan Indonesia. Arus modal berpotensi kembali masuk ke instrumen domestik seiring berkurangnya tekanan dari dolar AS.
Namun, pasar tetap menunggu konfirmasi lebih lanjut dari otoritas moneter AS. Setiap pernyataan resmi atau data ekonomi lanjutan akan menjadi bahan pertimbangan investor.
“Ke depan, investor akan fokus pada laporan ketenagakerjaan acuan yang akan dirilis besok dan rilis CPI pada hari Jumat untuk mendapatkan wawasan lebih lanjut tentang lintasan ekonomi AS,” kata Andry, Rabu, 11 Februari 2026.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pasar masih berada dalam fase menunggu kepastian. Oleh karena itu, pergerakan rupiah ke depan masih sangat dipengaruhi oleh data dan sentimen global.
Perhatian Investor Tertuju pada Dinamika Tiongkok
Di sisi lain, investor juga mencermati perkembangan di Tiongkok yang dinilai memiliki dampak signifikan terhadap pasar global. Laporan terbaru menyebutkan bahwa otoritas setempat mendorong perbankan mengurangi eksposur terhadap obligasi Treasury AS.
Langkah tersebut dilakukan di tengah kekhawatiran atas risiko konsentrasi dan volatilitas pasar. Kebijakan ini menjadi sinyal bahwa Tiongkok mulai melakukan diversifikasi aset dalam pengelolaan cadangan devisanya.
Perubahan strategi investasi oleh Tiongkok dapat memengaruhi permintaan terhadap dolar AS. Jika permintaan menurun, nilai tukar dolar cenderung melemah dan memberi ruang bagi mata uang lain untuk menguat.
Bagi pasar Indonesia, kondisi ini dinilai dapat menjadi sentimen positif tambahan. Rupiah berpotensi mendapatkan dukungan seiring melemahnya tekanan eksternal dari pergerakan dolar AS.
Namun, pelaku pasar tetap mencermati perkembangan lanjutan dari kebijakan tersebut. Setiap perubahan sikap otoritas Tiongkok bisa berdampak luas terhadap stabilitas pasar keuangan global.
Selain itu, hubungan perdagangan dan investasi antara Tiongkok dan negara berkembang juga menjadi perhatian investor. Dinamika ekonomi Negeri Tirai Bambu seringkali memberikan efek rambatan terhadap pasar Asia, termasuk Indonesia.
Situasi ini membuat pelaku pasar lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan. Meski sentimen cenderung positif, risiko eksternal masih tetap membayangi pergerakan nilai tukar.
Proyeksi Pergerakan Rupiah Sepanjang Hari Ini
Dengan mempertimbangkan berbagai sentimen global tersebut, Andry memperkirakan rupiah akan bergerak dalam kisaran tertentu sepanjang hari ini. Ia memproyeksikan rupiah berada di rentang Rp16.775 hingga Rp16.840 per dolar AS.
“Pandangan kami rupiah hari ini akan bergerak di sekitar Rp16.775 dan Rp16.840 per dolar AS,” imbuh Andry. Pernyataan ini menjadi acuan awal bagi pelaku pasar dalam menyusun strategi transaksi harian.
Kisaran tersebut mencerminkan potensi volatilitas yang masih relatif terbatas. Meski demikian, pasar tetap perlu mewaspadai kemungkinan pergerakan tajam jika muncul sentimen baru yang tidak terduga.
Pergerakan rupiah yang relatif stabil dinilai positif bagi sektor riil. Stabilitas nilai tukar membantu pelaku usaha dalam merencanakan biaya impor maupun ekspor dengan lebih baik.
Bagi investor pasar keuangan, kondisi ini memberikan ruang untuk melakukan penyesuaian portofolio. Kejelasan arah pergerakan rupiah menjadi salah satu faktor utama dalam pengambilan keputusan investasi.
Meski rupiah menguat di awal perdagangan, pelaku pasar tetap tidak mengabaikan risiko global. Faktor geopolitik, data ekonomi utama, serta kebijakan bank sentral dunia masih berpotensi mengubah arah pasar secara cepat.
Dalam konteks domestik, stabilitas makroekonomi Indonesia juga menjadi faktor penopang nilai tukar. Fundamental ekonomi yang relatif solid memberi keyakinan tambahan bagi investor terhadap rupiah.
Ke depan, arah pergerakan rupiah diperkirakan tetap dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik. Oleh karena itu, pemantauan perkembangan ekonomi internasional menjadi kunci bagi pelaku pasar.
Kondisi pasar hari ini menunjukkan bahwa rupiah masih memiliki ruang untuk bergerak positif. Namun, kehati-hatian tetap diperlukan mengingat dinamika ekonomi global yang belum sepenuhnya stabil.
Dengan latar belakang tersebut, penguatan rupiah di awal perdagangan hari ini menjadi sinyal optimisme yang patut dicermati. Meski demikian, kesinambungan tren ini masih akan sangat bergantung pada perkembangan data dan kebijakan global dalam beberapa hari ke depan.