Simpan Telur di Kulkas atau di Luar, Ini Penjelasan Lengkap Agar Tidak Salah

Senin, 26 Januari 2026 | 09:23:44 WIB
Simpan Telur di Kulkas atau di Luar, Ini Penjelasan Lengkap Agar Tidak Salah

JAKARTA - Banyak orang menganggap cara menyimpan telur sebagai hal sepele yang tak perlu dipikirkan panjang. Namun, kebiasaan sederhana ini ternyata memicu perdebatan panjang di dunia kuliner dan keamanan pangan.

Sebagian orang terbiasa meletakkan telur di rak dapur agar mudah dijangkau. Sementara itu, tak sedikit pula yang langsung menyimpannya di dalam kulkas demi alasan keawetan.

Perbedaan kebiasaan ini bukan sekadar soal kenyamanan. Cara penyimpanan telur juga berkaitan dengan rasa, tekstur, serta risiko keamanan pangan.

Chef terkenal asal Inggris, James Martin, menyebut telur sebaiknya tidak disimpan di dalam kulkas. Menurutnya, cangkang telur bersifat berpori sehingga mudah menyerap aroma dari makanan lain yang ada di dalam kulkas.

Hal ini, pada akhirnya, dapat memengaruhi rasa telur. Aroma bawang, ikan, atau makanan tajam lainnya bisa terserap dan mengubah karakter telur saat dimasak.

Selain soal rasa, telur dingin juga dinilai kurang ideal untuk proses memasak. Martin mengatakan telur yang langsung diambil dari kulkas bisa memengaruhi hasil masakan, terutama saat digunakan untuk memanggang kue.

Mengutip HuffPost, perusahaan baking asal Amerika Serikat, King Arthur Baking, menyebut telur dingin membutuhkan waktu lebih lama untuk matang dan dapat membuat tekstur kue menjadi lebih kaku. Bahkan, telur yang masih dingin berisiko retak jika langsung dimasukkan ke air panas saat direbus.

Pendapat ini membuat sebagian orang memilih menyimpan telur di luar kulkas. Mereka percaya telur bersuhu ruang lebih praktis dan memberi hasil masakan yang lebih optimal.

Namun, pandangan ini tidak sepenuhnya sejalan dengan rekomendasi otoritas keamanan pangan. Dari sudut pandang kesehatan, faktor keamanan tetap menjadi prioritas utama.

Namun, otoritas keamanan pangan Inggris, Food Standards Agency (FSA), justru menyarankan telur disimpan di tempat sejuk dan kering. Kulkas pun disebut sebagai pilihan paling aman.

Menurut FSA, menyimpan telur pada suhu yang stabil penting untuk menjaga keamanannya. Perubahan suhu yang terlalu sering dapat menimbulkan embun pada cangkang telur, yang berpotensi memudahkan bakteri seperti Salmonella masuk ke dalam telur.

Bakteri ini bisa berkembang tanpa disadari dan memicu risiko penyakit bawaan makanan. Karena itu, kestabilan suhu menjadi kunci penting dalam penyimpanan telur.

Tak hanya telur utuh, telur yang sudah dipecahkan juga harus disimpan di kulkas. FSA menjelaskan bakteri berbahaya dapat berkembang dengan cepat pada telur cair yang dibiarkan di suhu ruang.

Telur cair yang disimpan di kulkas pun sebaiknya dibuang jika sudah lebih dari 24 jam. Langkah ini penting untuk mencegah risiko keracunan makanan yang tidak diinginkan.

Perbedaan pandangan antara chef dan otoritas keamanan pangan membuat banyak orang bingung menentukan pilihan. Namun, keduanya sebenarnya menyoroti aspek yang berbeda, yakni kualitas masakan dan keamanan konsumsi.

Di satu sisi, telur bersuhu ruang dianggap lebih mudah diolah. Di sisi lain, telur yang disimpan di kulkas dinilai lebih aman untuk jangka waktu lebih lama.

Melansir Martha Stewart, terdapat beberapa cara menyimpan telur agar tetap aman. Langkah-langkah ini bisa diterapkan baik saat telur disimpan di kulkas maupun di luar kulkas.

• Tangani telur dengan hati-hati karena sifatnya mudah rapuh. Penyimpanan yang tidak tepat, penanganan yang salah, dan retakan kecil dapat memicu pertumbuhan bakteri.

• Saat membeli, hindari telur yang retak karena dapat meningkatkan risiko kontaminasi dari partikel di udara dan memicu penyakit bawaan makanan. Telur dengan cangkang utuh lebih aman disimpan dan dikonsumsi.

• Jangan mencuci telur karena dapat mendorong bakteri menembus cangkang. Jika telur kotor, cukup bersihkan dengan kain kering atau tisu.

• Cuci tangan sebelum memegang telur untuk mencegah kuman di tangan masuk ke dalam makanan. Kebiasaan ini sederhana tetapi sangat penting dalam menjaga keamanan pangan.

• Jauhkan telur dari makanan berbau menyengat karena telur dapat menyerap aroma kuat jika disimpan terlalu lama di dekatnya. Hal ini dapat memengaruhi rasa telur saat diolah.

Dengan mengikuti langkah-langkah ini, risiko kontaminasi dapat ditekan. Telur pun bisa tetap aman dan layak konsumsi lebih lama.

Lalu, mana cara menyimpan telur yang paling tepat? Jawabannya bergantung pada kebutuhan dan kebiasaan masing-masing orang.

Menyimpan telur di kulkas memang membuatnya lebih awet dan aman, terutama bagi mereka yang tidak sering menggunakan telur dalam waktu dekat. Suhu dingin memperlambat pertumbuhan bakteri dan menjaga kualitas telur lebih lama.

Sementara itu, sebagian orang yang gemar memasak berbahan dasar telur lebih memilih menyimpannya di luar kulkas. Telur bersuhu ruang dianggap lebih mudah diolah dan dapat memberikan hasil masakan yang lebih optimal.

Telur yang tidak terlalu dingin juga lebih mudah tercampur dengan bahan lain dalam adonan. Hal ini dinilai penting terutama dalam proses baking dan pembuatan kue.

Namun, menyimpan telur di luar kulkas memiliki batasan waktu. Telur sebaiknya segera digunakan dan tidak dibiarkan terlalu lama di suhu ruang.

Faktor lingkungan seperti suhu ruangan dan kelembapan juga berpengaruh. Di daerah bersuhu panas, risiko pertumbuhan bakteri bisa lebih tinggi jika telur tidak disimpan di kulkas.

Untuk mengetahui apakah telur masih layak konsumsi, banyak orang mengenal tes telur dengan merendamnya di air. Telur yang mengapung dianggap sudah tidak segar, sedangkan telur yang tenggelam dinilai masih aman.

Namun, FSA menegaskan cara paling aman adalah memperhatikan tanggal kedaluwarsa dan memastikan telur dimasak hingga matang sempurna. Telur bahkan masih bisa dikonsumsi beberapa hari setelah tanggal tersebut, asalkan dimasak dengan benar.

Memasak telur hingga matang sempurna sangat penting untuk membunuh bakteri berbahaya. Cara ini menjadi langkah perlindungan terakhir sebelum telur dikonsumsi.

Tes air memang bisa memberi gambaran kasar tentang kesegaran telur. Namun, metode ini tidak sepenuhnya menjamin keamanan telur untuk dikonsumsi.

Perubahan kecil pada cangkang atau aroma juga bisa menjadi tanda telur sudah tidak layak makan. Jika ragu, sebaiknya telur tidak digunakan demi keamanan.

Dalam praktik sehari-hari, banyak orang memilih kombinasi kedua metode penyimpanan. Telur baru disimpan di kulkas, lalu dikeluarkan beberapa saat sebelum digunakan.

Cara ini dianggap sebagai jalan tengah antara menjaga keamanan dan memudahkan proses memasak. Telur tetap terlindungi dari risiko bakteri sekaligus tidak terlalu dingin saat diolah.

Pendekatan ini juga membantu menjaga kualitas rasa dan tekstur masakan. Telur bersuhu ruang dinilai lebih mudah tercampur dan menghasilkan adonan yang lebih stabil.

Namun, penting untuk memastikan telur yang sudah dikeluarkan dari kulkas tidak dibiarkan terlalu lama di suhu ruang. Jika tidak digunakan dalam waktu dekat, telur sebaiknya dikembalikan ke kulkas.

Perubahan suhu yang terlalu sering juga sebaiknya dihindari. Kondisi ini dapat menyebabkan embun pada cangkang telur yang berpotensi memicu masuknya bakteri.

Oleh karena itu, jika telur sudah dikeluarkan dari kulkas, sebaiknya segera digunakan. Kebiasaan ini membantu menjaga keamanan dan kualitas telur.

Perdebatan tentang tempat terbaik menyimpan telur menunjukkan bahwa tidak ada satu jawaban mutlak. Setiap metode memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Menyimpan telur di kulkas unggul dari sisi keamanan dan daya simpan. Sementara itu, menyimpan telur di luar kulkas unggul dari sisi kemudahan memasak dan kualitas tekstur.

Pilihan terbaik bisa disesuaikan dengan gaya hidup dan kebutuhan dapur masing-masing orang. Yang terpenting, telur tetap ditangani dengan benar dan dimasak hingga matang.

Kesadaran akan keamanan pangan menjadi faktor utama dalam menentukan cara penyimpanan. Telur yang disimpan dengan baik akan memberikan manfaat nutrisi tanpa risiko kesehatan.

Telur sendiri merupakan sumber protein berkualitas tinggi yang mudah diolah. Kandungan nutrisi di dalamnya sangat penting bagi kesehatan tubuh.

Karena itu, menjaga kualitas telur sejak penyimpanan hingga pengolahan menjadi hal yang tidak boleh diabaikan. Langkah sederhana di dapur bisa berdampak besar pada kesehatan.

Memahami karakter telur dan cara penyimpanan yang tepat membantu mengurangi risiko kontaminasi. Selain itu, hasil masakan pun bisa lebih optimal.

Baik disimpan di kulkas maupun di luar, telur tetap membutuhkan penanganan yang hati-hati. Retakan kecil atau kebersihan yang kurang terjaga bisa menjadi pintu masuk bakteri.

Mencuci tangan sebelum memegang telur dan memastikan alat masak bersih menjadi kebiasaan penting. Kebersihan dapur secara keseluruhan juga berperan besar dalam keamanan pangan.

Pada akhirnya, pilihan menyimpan telur di kulkas atau di luar kembali pada kebutuhan masing-masing orang. Yang terpenting, keamanan dan kualitas tetap menjadi prioritas utama.

Dengan memahami risiko dan manfaat dari setiap metode, seseorang bisa mengambil keputusan yang paling sesuai. Kebiasaan kecil ini dapat memberikan dampak besar bagi kesehatan keluarga.

Menyimpan telur dengan cara yang tepat juga membantu mengurangi pemborosan makanan. Telur yang awet dan aman dikonsumsi tentu lebih bermanfaat dalam jangka panjang.

Kesimpulannya, telur boleh disimpan di kulkas maupun di luar, asalkan dilakukan dengan benar. Menyesuaikan cara penyimpanan dengan kebutuhan dan kondisi lingkungan menjadi kunci utama.

Dengan penanganan yang tepat, telur tetap aman, lezat, dan bergizi. Kebiasaan sederhana ini membantu menjaga kualitas masakan sekaligus melindungi kesehatan.

Terkini