JAKARTA - Pergerakan pasar saham menjelang akhir pekan kembali menjadi perhatian investor setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan tekanan yang cukup signifikan. Meski demikian, di balik koreksi tersebut, masih terdapat sejumlah saham yang mencatatkan penguatan dan aksi korporasi yang menarik untuk dicermati.
Situasi ini menunjukkan bahwa pasar tidak bergerak satu arah, melainkan dipengaruhi beragam sentimen yang saling berlawanan. Investor pun tetap mencermati peluang di tengah fluktuasi, baik dari sisi teknikal maupun fundamental.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,46% ke level 8.951,01 pada perdagangan Jumat, 23 Januari 2026. Pelemahan ini terjadi setelah sebelumnya indeks bergerak dalam rentang yang cukup fluktuatif sepanjang sesi perdagangan.
Penurunan IHSG tersebut mencerminkan tekanan jual yang masih mendominasi pasar secara keseluruhan. Namun, kondisi ini tidak sepenuhnya menutup peluang karena beberapa saham justru mencatatkan penguatan signifikan.
Di tengah koreksi tersebut, sejumlah saham mencatatkan penguatan signifikan, dipimpin oleh MORA yang melonjak 8,10%. Selanjutnya, BBRI naik 1,05% dan DCII menguat 1,87%, memberikan warna positif di tengah tekanan pasar.
Pergerakan saham-saham ini menunjukkan bahwa minat beli investor masih cukup kuat pada emiten tertentu. Kondisi tersebut juga mengindikasikan bahwa sentimen positif belum sepenuhnya hilang dari pasar.
Sementara itu, tekanan jual membayangi sejumlah saham besar lainnya. AMMN tercatat turun 6,19%, PTRO merosot 14,85%, dan BRPT terkoreksi 5,82% sebagai saham dengan pelemahan terdalam.
Penurunan tajam pada saham-saham ini menjadi perhatian pelaku pasar. Koreksi tersebut mencerminkan adanya aksi ambil untung maupun sentimen negatif terhadap sektor atau kinerja emiten tertentu.
Pergerakan Investor Asing dan Dinamika Transaksi
Dari aktivitas investor, asing membukukan net sell Rp116,72 miliar di pasar reguler. Meski demikian, secara keseluruhan investor asing masih mencatatkan net buy Rp759,08 miliar.
Data ini menunjukkan bahwa meskipun terjadi tekanan jual di pasar reguler, investor asing tetap memiliki posisi beli yang cukup besar secara total. Kondisi tersebut mencerminkan adanya strategi portofolio yang lebih luas dalam merespons pergerakan pasar.
Aktivitas jual beli asing menjadi salah satu indikator penting bagi pelaku pasar domestik. Pergerakan dana asing sering kali memengaruhi arah indeks dan volatilitas saham-saham berkapitalisasi besar.
Dengan adanya net sell di pasar reguler, tekanan terhadap IHSG pun semakin terasa. Namun, catatan net buy secara keseluruhan menunjukkan bahwa minat asing terhadap pasar saham Indonesia belum sepenuhnya surut.
Situasi ini memberi gambaran bahwa investor asing masih melihat peluang jangka menengah hingga panjang. Hal tersebut menjadi sinyal bahwa koreksi yang terjadi dapat dimanfaatkan sebagai peluang akumulasi oleh sebagian pelaku pasar.
Bagi investor ritel, data ini menjadi referensi penting dalam membaca arah pasar. Pergerakan dana asing kerap menjadi penentu sentimen jangka pendek sekaligus indikator kepercayaan jangka panjang terhadap pasar domestik.
Kinerja Sektoral: Mayoritas di Zona Merah
Secara sektoral, 9 dari 11 sektor berakhir di zona merah. Sektor Transportation mencatat penurunan paling dalam sebesar 2,29%, menunjukkan tekanan yang cukup signifikan di sektor tersebut.
Koreksi sektor Transportation ini mencerminkan adanya kekhawatiran terhadap prospek bisnis atau tekanan biaya yang memengaruhi kinerja perusahaan-perusahaan di sektor tersebut. Investor pun cenderung melakukan aksi jual sebagai langkah antisipasi terhadap potensi risiko.
Di sisi lain, sektor Healthcare menjadi yang terkuat dengan kenaikan 0,64%. Kinerja positif ini mencerminkan minat investor terhadap saham-saham defensif yang cenderung stabil di tengah volatilitas pasar.
Penguatan sektor Healthcare menunjukkan bahwa investor masih mencari perlindungan di sektor yang dianggap memiliki permintaan relatif stabil. Kondisi ini sejalan dengan tren global yang kerap menjadikan sektor kesehatan sebagai pilihan aman saat pasar bergejolak.
Sementara itu, sektor-sektor lain mayoritas bergerak melemah, mencerminkan tekanan yang cukup merata di pasar. Hal ini memperlihatkan bahwa sentimen negatif tidak hanya terfokus pada satu sektor tertentu, melainkan menyebar ke berbagai lini industri.
Dengan mayoritas sektor berada di zona merah, IHSG pun sulit mempertahankan penguatan. Situasi ini menunjukkan bahwa tekanan pasar bersifat luas dan tidak hanya dipicu oleh faktor sektoral tertentu.
Meski demikian, adanya sektor Healthcare yang menguat menunjukkan bahwa peluang masih terbuka bagi investor yang jeli dalam memilih sektor. Rotasi sektor menjadi strategi yang relevan di tengah kondisi pasar yang penuh dinamika.
Aksi Korporasi dan Proyek Strategis
Di level korporasi, Ketrosden Triasmitra (KETR) melalui entitas anaknya, Jejaring Mitra Persada (JMP), menjalin kerja sama dengan Mora Telematika Indonesia (MORA). Kerja sama ini dilakukan untuk proyek pembangunan kabel serat optik bawah laut Jakarta–Batam–Singapura.
Proyek tersebut merupakan bagian dari Sistem Komunikasi Kabel Laut Rising 8 dengan total panjang 1.128,5 km. Proyek ini dinilai strategis karena mendukung konektivitas data antarwilayah dan antarnegara.
Untuk tahap awal, segmen Jakarta–Batam sepanjang 1.053,5 km ditargetkan rampung pada akhir kuartal I-2026. Target penyelesaian ini menunjukkan komitmen perseroan dalam mempercepat pembangunan infrastruktur digital.
Sistem yang digunakan mengadopsi repeatered submarine cable system berkapasitas hingga 400 Tbps. Teknologi ini memungkinkan transmisi data dalam jumlah besar dengan keandalan tinggi.
Proyek ini menggunakan kabel produksi Norddeutsche Seekabelwerke (NSW) dari Prysmian Group Jerman. Selain itu, proyek ini juga dilengkapi dengan 11 repeater dari Alcatel Submarine Networks Prancis.
Teknologi tersebut digunakan untuk mendukung 16 fiber pairs dengan kapasitas 25 Tbps per fiber pair. Hal ini menunjukkan skala besar dan kompleksitas tinggi dari proyek infrastruktur tersebut.
Setelah proyek ini rampung, KETR juga menargetkan keterlibatan dalam pengembangan SKKL Indonesia Tengah sepanjang 8.732 km. Proyek tersebut ditargetkan untuk dikomersialisasikan pada 2027.
Rencana ini menunjukkan strategi jangka panjang perseroan dalam memperluas jaringan dan memperkuat posisinya di sektor infrastruktur telekomunikasi. Investor pun mencermati langkah ini sebagai potensi katalis positif bagi kinerja perusahaan ke depan.
Aksi Buyback Saham ERAA
Sementara itu, Erajaya Swasembada (ERAA) mengumumkan rencana pembelian kembali saham dengan dana maksimal Rp150 miliar. Aksi buyback ini akan dilakukan secara bertahap pada periode 23 Januari hingga 23 April.
Mengacu pada POJK No. 13/2023, aksi ini dapat dilaksanakan tanpa persetujuan RUPS. Ketentuan tersebut berlaku selama jumlah saham yang dibeli kembali tidak melebihi 20% dari modal disetor.
Selain itu, perseroan juga wajib menjaga porsi saham publik minimal 7,5% setelah buyback. Ketentuan ini bertujuan untuk menjaga likuiditas saham di pasar.
Seluruh pendanaan buyback bersumber dari kas internal perseroan yang tercatat sebesar Rp1,81 triliun per periode 9M25. Kondisi kas yang kuat ini memberikan ruang bagi perseroan untuk melakukan aksi korporasi tanpa mengganggu operasional.
Dari sisi pergerakan harga, saham ERAA tercatat menembus garis tren menurun dengan dukungan lonjakan volume. Pergerakan ini membuka peluang penguatan menuju area Rp446.
Aksi buyback ini dinilai sebagai sinyal kepercayaan manajemen terhadap prospek kinerja perusahaan. Investor pun cenderung menilai langkah ini sebagai katalis positif dalam jangka pendek maupun menengah.
Dengan dukungan kas internal yang kuat, ERAA memiliki fleksibilitas dalam mengelola struktur permodalannya. Hal ini juga mencerminkan kondisi keuangan perseroan yang relatif solid di tengah dinamika pasar.
Dinamika Pasar dan Peluang Investasi
Pelemahan IHSG pada penutupan perdagangan Jumat, 23 Januari 2026, menunjukkan bahwa tekanan pasar masih cukup terasa. Namun, adanya saham-saham yang mencatatkan penguatan signifikan memberikan gambaran bahwa peluang tetap terbuka.
Pergerakan MORA, BBRI, dan DCII yang menguat di tengah koreksi indeks menunjukkan adanya selektivitas investor dalam memilih saham. Kondisi ini mencerminkan bahwa pasar tidak sepenuhnya pesimistis, melainkan lebih berhati-hati dan terfokus.
Di sisi lain, koreksi tajam pada AMMN, PTRO, dan BRPT menjadi pengingat bahwa risiko tetap perlu diperhitungkan. Investor disarankan untuk mencermati fundamental emiten dan perkembangan sektoral sebelum mengambil keputusan.
Aktivitas investor asing yang mencatatkan net sell di pasar reguler, namun masih mencatatkan net buy secara keseluruhan, menunjukkan dinamika yang cukup kompleks. Situasi ini menggambarkan adanya rotasi portofolio atau penyesuaian strategi oleh investor asing.
Secara sektoral, mayoritas sektor yang berakhir di zona merah mencerminkan tekanan yang bersifat luas. Namun, penguatan sektor Healthcare menunjukkan bahwa sektor defensif masih menjadi pilihan di tengah ketidakpastian.
Aksi korporasi KETR melalui proyek kabel serat optik bawah laut memberikan gambaran positif terhadap pengembangan infrastruktur digital. Proyek ini berpotensi memberikan dampak jangka panjang bagi kinerja perseroan dan sektor telekomunikasi.
Rencana buyback saham oleh ERAA juga menjadi perhatian pasar. Langkah ini dinilai sebagai upaya perseroan untuk meningkatkan nilai pemegang saham dan menjaga stabilitas harga saham di tengah volatilitas pasar.
Dengan berbagai dinamika tersebut, investor dihadapkan pada kondisi pasar yang menuntut kehati-hatian sekaligus ketajaman dalam membaca peluang. Strategi selektif dan diversifikasi menjadi kunci dalam menghadapi pergerakan pasar yang fluktuatif.
Ke depan, arah pergerakan IHSG akan sangat bergantung pada sentimen global, data ekonomi domestik, serta perkembangan aksi korporasi emiten-emiten besar. Investor diharapkan terus memantau informasi terbaru dan menyesuaikan strategi investasi sesuai dengan kondisi pasar.
Dalam kondisi seperti ini, pendekatan jangka panjang dengan mempertimbangkan fundamental perusahaan dapat menjadi pilihan yang bijak. Sementara itu, bagi investor jangka pendek, volatilitas pasar dapat dimanfaatkan sebagai peluang, dengan tetap memperhatikan manajemen risiko.