JAKARTA - Awal perdagangan saham hari ini langsung diwarnai tekanan di pasar modal Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat bergerak melemah sejak pembukaan, mencerminkan sikap wait and see investor terhadap dinamika pasar global dan domestik.
Pergerakan IHSG ini menjadi perhatian pelaku pasar karena terjadi setelah beberapa sesi sebelumnya bergerak fluktuatif. Kondisi tersebut membuat investor ritel dan institusi lebih berhati-hati dalam mengambil posisi.
Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal perdagangan hari ini langsung mengalami tekanan. Pada Selasa (27/01/2026), IHSG dibuka melemah ke 8.974 dari penutupan sebelumnya di 8.975.
Mengutip data RTI, IHSG hari ini terus mengalami tekanan. Pada pukul 09.40 WIB, IHSG turun 0,59% atau 55 poin ke level 8.920,13.
Indeks saham LQ45 juga mengalami tekanan 1% ke posisi 873. Seluruh indeks saham acuan terbakar.
Pada awal sesi perdagangan, IHSG berada di level tertinggi 8.978 dan level terendah 8.873. Sebanyak 186 saham menguat tetapi tak mampu mengangkat IHSG.
Sedangkan 416 saham melemah dan 107 saham diam di tempat. Kondisi ini mencerminkan tekanan jual yang lebih dominan dibandingkan minat beli di pasar.
Total frekuensi perdagangan 902.898 kali dengan volume perdagangan saham 12,9 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 6,4 triliun.
Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah menguat ke 16.795. Penguatan dolar ini turut memberikan tekanan tambahan terhadap pasar saham domestik.
Dari 11 sektor saham, 9 sektor berada di zona merah dan hanya dua sektor yang menghijau. Kedua sektor tersebut adalah energi dan cyclical.
Pergerakan ini menunjukkan bahwa tekanan terjadi secara merata di berbagai sektor utama. Investor cenderung melakukan aksi ambil untung dan mengurangi eksposur terhadap saham-saham berisiko.
Dinamika Pergerakan IHSG di Awal Sesi
Tekanan IHSG sejak pembukaan mencerminkan sikap kehati-hatian pasar terhadap perkembangan eksternal. Sentimen global dan pergerakan mata uang turut memengaruhi keputusan investor.
Fluktuasi yang terjadi di awal sesi perdagangan sering kali menjadi indikator arah pasar sepanjang hari. Namun, pergerakan ini tetap perlu dikaji bersama faktor teknikal dan fundamental lainnya.
Pergerakan saham yang melemah lebih banyak dibandingkan yang menguat menunjukkan dominasi tekanan jual. Hal ini membuat IHSG sulit untuk mempertahankan level psikologis yang sebelumnya dicapai.
Kondisi ini juga mencerminkan bahwa minat beli masih terbatas di tengah ketidakpastian pasar. Investor cenderung menunggu sinyal yang lebih kuat sebelum kembali masuk ke pasar.
Nilai transaksi yang mencapai Rp 6,4 triliun menunjukkan aktivitas perdagangan tetap ramai meskipun indeks melemah. Hal ini mengindikasikan adanya rotasi portofolio di kalangan investor.
Volume perdagangan yang besar juga menunjukkan likuiditas pasar masih terjaga. Dengan likuiditas yang cukup, pergerakan harga saham tetap berlangsung aktif meskipun cenderung negatif.
Penguatan dolar Amerika Serikat ke level 16.795 turut memberikan tekanan pada aset berisiko di pasar domestik. Nilai tukar yang melemah sering kali mendorong investor asing untuk melakukan penyesuaian portofolio.
Tekanan terhadap IHSG juga diperkuat oleh pelemahan di sebagian besar sektor saham. Hanya sektor energi dan cyclical yang mampu bertahan di zona hijau pada awal perdagangan.
Kondisi sektoral ini mencerminkan adanya perbedaan sentimen antarindustri. Sektor energi dan cyclical dinilai masih memiliki prospek jangka pendek yang relatif stabil dibandingkan sektor lainnya.
Meskipun IHSG melemah, sebagian saham masih mampu mencatatkan penguatan. Namun, jumlahnya belum cukup signifikan untuk mendorong indeks bergerak ke zona positif.
IHSG Berpeluang Melejit
Usai Libur Lebaran 2025, IHSG Dibuka Anjlok 9 Persen
Perbesar
Pada pembukaan pasar usai libur Lebaran 2025, pada Selasa (08/04/2025), saham-saham Indonesia merosot lebih dari sembilan persen ke level 5.912. (BAY ISMOYO/AFP)
Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi melanjutkan kenaikan pada perdagangan saham Selasa, (27/01/2026). Lalu apa saja rekomendasi saham-nya?
Berdasarkan catatan BNI Sekuritas, IHSG ditutup menguat 0,27% tetapi disertai dengan aksi jual saham oleh investor asing Rp 1,01 triliun pada perdagangan saham Senin, 26 Januari 2026. Saham-saham yang paling banyak dijual oleh investor asing antara lain saham BBCA, BMRI, BUMI, BBNI dan MDKA.
"IHSG berpotensi melanjutkan penguatan hari ini, jika kuat bertahan di level support 8.880,” ujar Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman. Ia menuturkan, IHSG akan bergerak di level support 8.880-8.900 dan level resistance 9.000-9.050 pada perdagangan saham Selasa pekan ini.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa meskipun pasar dibuka melemah, peluang teknikal untuk rebound masih terbuka. Investor disarankan memperhatikan level support sebagai acuan pengambilan keputusan.
Pergerakan IHSG yang sempat menguat di sesi sebelumnya memberikan sinyal bahwa pasar masih memiliki momentum positif. Namun, aksi jual asing menjadi faktor penekan yang perlu diwaspadai.
Aksi jual asing sebesar Rp 1,01 triliun mencerminkan adanya penyesuaian portofolio oleh investor global. Saham-saham perbankan dan pertambangan menjadi yang paling banyak dilepas.
Meski demikian, peluang penguatan tetap terbuka apabila IHSG mampu bertahan di atas level support yang telah ditentukan. Level 8.880 hingga 8.900 menjadi area kunci untuk menjaga tren jangka pendek.
Resistance di level 9.000 hingga 9.050 juga menjadi target penting bagi pergerakan indeks ke depan. Jika mampu menembus area ini, IHSG berpotensi melanjutkan tren positifnya.
Investor disarankan mencermati pergerakan teknikal sekaligus sentimen global yang memengaruhi pasar. Kombinasi kedua faktor tersebut akan menentukan arah IHSG dalam beberapa sesi mendatang.
Rekomendasi dan Pandangan Analis Pasar
Sementara itu, dalam riset Kiwoom Sekuritas Indonesia menyebutkan, secara teknikal IHSG sempat mencoba menembus level resistance moving average (MA) 10 harian di level 9.014 tetapi gagal. IHSG ke depan akan mencoba stabil untuk pertahankan penguatan dalam jangka menengah meski risiko konsolidasi minor masih ada ke arah 8.900-8.780.
Kiwoom menyarankan untuk wait and see sambil menunggu momentum buy on weakness terbuka. Strategi ini dinilai tepat di tengah volatilitas pasar yang masih cukup tinggi.
Pendekatan wait and see memungkinkan investor mengamati arah pergerakan indeks sebelum mengambil posisi baru. Hal ini membantu meminimalkan risiko masuk di harga yang kurang optimal.
Risiko konsolidasi minor ke arah 8.900-8.780 menjadi perhatian utama dalam jangka pendek. Namun, peluang stabilisasi tetap terbuka jika tekanan jual mereda.
Pandangan teknikal ini sejalan dengan pendekatan konservatif di tengah pasar yang belum menunjukkan arah jelas. Investor disarankan untuk lebih selektif dalam memilih saham.
Fokus utama investor sebaiknya diarahkan pada saham-saham berfundamental kuat dan memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang. Saham-saham tersebut dinilai lebih tahan terhadap fluktuasi pasar.
Selain itu, investor juga perlu memperhatikan sektor-sektor yang masih mencatatkan kinerja positif. Sektor energi dan cyclical yang menghijau dapat menjadi alternatif menarik dalam jangka pendek.
Pergerakan sektor ini menunjukkan adanya rotasi dana ke saham-saham tertentu yang dianggap lebih defensif atau memiliki katalis positif. Hal ini dapat dimanfaatkan sebagai peluang investasi.
Dengan volatilitas yang masih cukup tinggi, manajemen risiko menjadi hal yang sangat penting. Investor disarankan untuk menentukan batas kerugian dan target keuntungan sebelum melakukan transaksi.
Kondisi pasar yang dinamis menuntut investor untuk tetap disiplin terhadap strategi investasi yang telah direncanakan. Pendekatan ini membantu menjaga portofolio tetap sehat di tengah fluktuasi pasar.
Rekomendasi Saham
Pembukaan Awal Tahun 2022 IHSG Menguat
Perbesar
Aktivitas pekerja di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Senin (03/01/2022). Pada pembukaan perdagangan bursa saham 2022 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung menguat 7,0 poin atau 0,11% di level Rp6.588,57.
Untuk rekomendasi saham hari ini, Fanny memilih saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dan PT Petrosea Tbk (PTRO).
Rekomendasi ini didasarkan pada analisis teknikal dan fundamental yang mempertimbangkan potensi pergerakan harga dalam jangka pendek. Saham-saham tersebut dinilai memiliki peluang rebound di tengah fluktuasi pasar.
BUMI dan BRMS dinilai menarik karena didukung oleh prospek sektor komoditas yang masih relatif kuat. Pergerakan harga komoditas global menjadi faktor penting dalam menentukan kinerja saham-saham ini.
Sementara itu, EMTK dipilih karena memiliki eksposur pada sektor media dan teknologi yang terus berkembang. Potensi pertumbuhan digital menjadi katalis jangka menengah bagi saham ini.
BREN menjadi salah satu pilihan karena fokus pada energi terbarukan yang sejalan dengan tren global. Sektor ini dinilai memiliki prospek jangka panjang yang menjanjikan.
CDIA dan PTRO juga masuk dalam daftar rekomendasi karena memiliki fundamental yang cukup solid. Keduanya dinilai memiliki peluang teknikal yang menarik di tengah kondisi pasar saat ini.
Investor disarankan tetap memperhatikan manajemen risiko dalam mengelola portofolio. Meskipun rekomendasi saham memberikan panduan, keputusan akhir tetap harus disesuaikan dengan profil risiko masing-masing.
Diversifikasi portofolio menjadi langkah penting untuk mengurangi potensi kerugian. Dengan menyebar investasi ke beberapa saham dan sektor, risiko dapat dikelola dengan lebih baik.
Selain itu, investor juga perlu mengikuti perkembangan berita dan sentimen pasar terkini. Informasi yang cepat dan akurat membantu pengambilan keputusan yang lebih tepat.
Dengan kondisi IHSG yang masih fluktuatif, strategi investasi yang disiplin dan terencana menjadi kunci keberhasilan. Pendekatan ini membantu investor menghadapi dinamika pasar dengan lebih percaya diri.