Anxious Attachment

Panduan Lengkap Menghadapi Anak Anxious Attachment Agar Lebih Percaya Diri

Panduan Lengkap Menghadapi Anak Anxious Attachment Agar Lebih Percaya Diri
Panduan Lengkap Menghadapi Anak Anxious Attachment Agar Lebih Percaya Diri

JAKARTA - Bunda mungkin sering merasa kesal saat Si Kecil menempel terus dan sulit ditinggal sebentar. Perilaku ini sebenarnya bisa menjadi tanda anak mengalami anxious attachment, yaitu kecemasan berpisah dari orang tua.

Anak dengan anxious attachment cenderung menangis atau rewel saat harus pergi ke sekolah atau bermain dengan teman. Mereka terlihat takut dan sangat membutuhkan kehadiran orang tua sebagai sumber rasa aman.

Beberapa anak menunjukkan kecemasan yang kuat saat menghadapi hal-hal baru. Bahkan perubahan kecil dalam kegiatan sehari-hari bisa membuat mereka frustrasi dan kesulitan menyesuaikan diri.

Ciri-ciri Anak dengan Anxious Attachment

Menurut Parents, anxious attachment adalah ikatan emosional di mana anak merasa cemas atau takut kehilangan orang yang mereka sayangi. Anak dengan kondisi ini sering menempel, mudah cemas saat berpisah, dan membutuhkan perhatian ekstra dari orang tua.

Seorang Psikolog Perkembangan dan Ilmuwan Riset Senior di Education Development Center, Jessica Young, PhD, menjelaskan, “Anxious attachment dapat terbentuk jika orang tua terkadang memberikan perhatian penuh, tapi di waktu lain mereka tidak hadir secara emosional atau mengabaikan anak.”

Penelitian menunjukkan anak dengan anxious attachment dapat mengalami kecemasan hingga masa remaja. Mereka cenderung menyimpan masalah sendiri dan mengandalkan orang dewasa untuk membantu menghadapi situasi sulit.

Anak-anak ini sering bingung tentang apa yang bisa mereka harapkan dari orang tua. Kadang mereka ragu apakah orang tua akan hadir saat dibutuhkan, sehingga muncul ketidakpastian emosional.

Tanda-tanda Anak Mengalami Anxious Attachment

Salah satu ciri utama adalah anak menjadi sangat manja dan menolak dipisahkan. Rasa cemas ini muncul saat jauh dari orang tua, bahkan dalam kegiatan sehari-hari seperti sekolah atau bermain dengan teman.

Perlu diperhatikan, reaksi ini wajar pada anak usia 3–5 tahun. Namun, jika sifat manja dan cemas muncul terus-menerus, hal ini bisa menghambat kemampuan anak untuk bersosialisasi dan mencoba hal baru.

Anak dengan anxious attachment juga kerap memiliki harga diri rendah. Mereka sering meragukan kemampuan diri sendiri dan membutuhkan dukungan ekstra agar merasa mampu menyelesaikan tugas atau bermain dengan teman.

Perasaan kurang percaya diri ini jika dibiarkan bisa memicu depresi saat remaja. Anak cenderung menutup diri dan enggan bercerita tentang kesulitan yang dialami karena merasa itu sepenuhnya kesalahan mereka sendiri.

Selain itu, anak-anak ini sangat sensitif terhadap teguran. Mereka bisa bereaksi berlebihan, bahkan menangis atau marah, saat menerima koreksi sederhana dari orang tua.

Emosi anak yang mudah berubah juga menjadi tanda. Mereka mungkin tiba-tiba marah atau sedih, tapi kesulitan mengungkapkan penyebab perasaan tersebut dengan kata-kata.

Strategi Membantu Anak Mengurangi Kecemasan

Anak-anak sebenarnya bisa belajar mengelola kecemasan mereka dengan dukungan orang tua. Memberikan contoh perilaku positif membantu mereka memahami cara mengenali dan menanggapi perasaan sendiri secara sehat.

“Tunjukkan kepada anak-anak tentang cara mengenali perasaan dan menanggapinya secara positif,” kata Jessica Young. Lingkungan rumah yang konsisten juga memberi rasa aman dan membangun kepercayaan diri anak.

Menciptakan rutinitas harian yang jelas membantu anak tahu apa yang diharapkan. “Buatlah struktur sebanyak mungkin agar anak tahu apa yang diharapkan,” ujarnya.

Selain itu, Bunda bisa membuat kotak lima indera untuk menenangkan diri. Anak bisa memilih benda yang berkaitan dengan penglihatan, pendengaran, sentuhan, penciuman, dan perasa, serta menghias kotak sesuai keinginannya.

“Mintalah anak memilih lima benda untuk dimasukkan ke dalam kotak yang berkaitan dengan lima indra. Anak juga bisa menghias kotak tersebut sesuai dengan keinginannya,” jelas Dr. Young.

Misalnya, mainan warna-warni untuk dilihat, bola atau boneka untuk disentuh, alat musik mini untuk didengar, dan bunga kering atau lilin aromaterapi untuk dicium. Kotak ini menjadi alat praktis bagi anak menghadapi situasi menegangkan.

Anak juga bisa didorong untuk bermain dan membuat keputusan sendiri. Bunda boleh terlibat, tetapi jangan menyelesaikan semua masalah mereka, agar anak belajar percaya diri dan mandiri.

Dengan strategi ini, anak akan belajar mengelola kecemasan dan memahami perasaannya sendiri. Anxious attachment tidak selalu menjadi masalah permanen jika orang tua memberikan dukungan konsisten dan positif.

Kesabaran dan perhatian orang tua menjadi kunci membangun rasa aman dan percaya diri anak. Perilaku positif dari Bunda akan membantu Si Kecil menyesuaikan diri dengan lingkungan baru dan menghadapi tantangan dengan lebih tenang.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index