Jangan Salah Kaprah, Ini 5 Fakta Pijat Limfatik untuk Kesehatan

Jangan Salah Kaprah, Ini 5 Fakta Pijat Limfatik untuk Kesehatan
Ilustrasi Pijat Limfatik.

JAKARTA - Di antara beragam opsi perawatan relaksasi, terapi pijat limfatik kini makin diminati dan menjadi tren yang ramai dibicarakan oleh masyarakat. Berbeda dari teknik pijat tradisional yang mengutamakan tekanan kuat demi meredakan otot kaku, pijat limfatik mempunyai karakter, metode, serta tujuan kesehatan yang amat spesifik. Supaya tidak keliru tatkala hendak mencoba terapi ini, ada lima poin mendasar terkait pijat limfatik yang perlu dipahami.

Teknik pijatan yang disarankan sangat lembut

Sebagian besar masyarakat terbiasa dengan metode pijat tradisional yang menitikberatkan pada daya dan dorongan keras pada titik tubuh. Kendati demikian, khusus untuk terapi limfatik, pandangan tersebut perlu disesuaikan. Founder EVERBODY, Ria Alexandra Putri membagikan sudut pandangnya mengenai kelirunya persepsi yang kerap terjadi di tengah para pelanggan.

“Pijat limfatik memang disarankan gentle, kebanyakan orang ingin ditekan kencang supaya berasa pijatannya. Tapi pijat limfatik yang lembut itu bukan berarti enggak efektif,” ujar Ria dalam Grand Opening EVER House Darmawangsa di Jakarta Selatan, Selasa (15/9/2026).

Sentuhan lembut ini menjadi kunci keberhasilan terapi tanpa mengusik keseimbangan dalam tubuh.

Letak sistem limfatik tepat di bawah kulit

Alasan mendasar di balik pentingnya penerapan tekanan yang sangat halus ini berkaitan erat dengan struktur anatomi tubuh manusia. Cairan getah bening yang menjadi sasaran utama pergerakan ini ternyata tidak berada di lapisan otot bagian dalam.

“Sistem limfatik itu berada di bawah jaringan kulit kami, tidak dalam-dalam banget. Kalau ditekan makin dalam, airnya itu malah masuk ke dalam jaringan dan tersumbat,” jelasnya.

Lantaran hal tersebut, terapis profesional bakal menyelaraskan ritme serta kedalaman usapan jemari agar aliran cairan tetap lancar.

Gerakan pijatan terlihat seolah hanya diusap

Bagi yang baru pertama kali merasakan, pergerakan pijatan ini mungkin dinilai minim tenaga lantaran jemari terapis hanya mengusap permukaan kulit secara perlahan. Namun, di balik sentuhan ringan tersebut, ada mekanisme terstruktur yang bekerja mengalirkan cairan kotor.

“Terlihatnya seperti diusap-usap bagian badannya, padahal itu sedang memindahkan cairan ke titik buang,” tambah Ria.

Dorongan halus ini berfungsi memindahkan penumpukan cairan limfatik menuju titik kelenjar pembuangan.

Aman untuk memijat area perut

Wilayah perut kerap menjadi area yang dihindari pada metode pijat tradisional karena dianggap teramat sensitif serta berisiko. Kendati begitu, guna melancarkan penumpukan cairan yang membuat perut terasa begah atau kembung, bagian ini sejatinya aman disentuh selama dilakukan secara berhati-hati.

“Perut itu boleh dipijat, tapi memang tekanannya harus diperhatikan. Untuk area perut sebaiknya tidak terlalu keras tekananya,” ungkapnya.

Ketelitian pada area abdomen ini amat krusial mengingat bagian tersebut menjadi rumah bagi banyak organ penting.

Aliran pijatan terfokus pada satu arah

Berbeda dari pijat relaksasi umum yang gerakannya dapat memutar, meremas, atau bolak-balik demi melemaskan otot kaku, pijat limfatik menuntut kedisiplinan arah. Terapis mesti mengarahkan cairan tubuh secara presisi menuju saluran pembuangan terdekat.

“Setiap pijatannya juga mengarah ke satu arah, sehingga cairan dalam perut bisa masuk ke lymph node-nya, nanti akan dibuang lewat urin dan lain-lain,” paparnya.

Lewat pergerakan terarah ini, sisa metabolisme beserta cairan berlebih yang mengendap sanggup dikeluarkan oleh tubuh secara alami.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index